Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Senin, 28 Oktober 2013

When Opportunity Comes...

Beberapa kali saya bertemu dengan karyawan, baik ketika mengunjungi suatu sales area atau dalam pertemuan-pertemuan resmi, diskusi bebas maupun perbincangan di bangku depan musholla, saya sering mendapat pertanyaan berikut:
  • seorang staf biasanya akan bertanya,"Saya ingin menjadi manager, kira-kira apa yang harus saya lakukan?"
  • seorang karyawan outsourcing biasanya bertanya,"Saya ingin menjadi karyawan permanen, apa yang harus saya siapkan?"
Pertanyaan yang sama sering diucapkan orang. Bahkan kita juga mungkin sering bertanya demikian. Adalah wajar, seorang staf ingin jadi manager, seorang manager ingin menjadi group head, atau ingin mejadi direktur. Seorang pebisnis ingin memiliki bisnis yang lebih besar, seorang pegawai ingin mendapat jabatan lebih tinggi, menjadi kepala instansi, naik pangkat dan seterusnya.

Berbicara tentang keinginan, Abraham Lincoln juga punya keinginan sejak muda, ingin menjadi Presiden Amerika. Tentang keinginannya itu ia berkomentar, "I will prepare and someday my chance will come.."

Apa yang dilakukan Lincoln dengan cita-citanya itu?

  • Di awal karir, Lincoln terpilih menjadi anggota DPRD untuk wilayah Illinois pada tahun 1834. Kemudian terpilih kembali pada tahun 1838 dan tahun 1840. 
  • Pada tahun 1842, setelah setahun pernikahan mereka, Lincoln membuka biro hukum dengan seorang teman bernama William H. Herndon. Persahabatan kedua orang ini ternyata terus bertahan hingga akhir hayat Lincoln. Di kemudian hari, Herndon-lah yang menulis biografi Abraham Lincoln.
  • Pada tahun 1846, Lincoln terpilih menjadi anggota Kongres. Namun keanggotaannya tidak diperpanjang karena ia mengusulkan undang-undang untuk meng-akhiri perbudakan di distrik Columbia. Karena kecewa, ia kembali mengaktifkan biro hukumnya. Ia menghentikan kegiatan politiknya untuk beberapa waktu, namun kemudian ia lebih dikenal oleh masyarakat sebagai pengacara yang jujur.
  • Nyatanya, Lincoln tak bisa berhenti terlalu lama dari dunia politik. Pada tahun 1854, isu perbudakan membuatnya terjun kembali ke dunia politik. Tampaknya ia harus bersaing dengan Stephen Douglas, yang mencoba menundukkan wilayah Selatan Amerika yang mendukung perbudakan, sementara wilayah Utara menentangnya. Lincoln tak menyangka bahwa setengah dari negeri ini mempertahankan praktek perbudakan ketika separuh saudara sebangsanya menentang. Ia berfikir, tak mungkin bangsanya terdiri dari separuh budak separuh bukan. Bagaimanapun, ternyata Lincoln terpukul pada putaran pertama melawan Douglas, dalam memperebutkan kursi Senat AS.
  • Meski kali ini ia kalah, pada bulan Mei 1860, Lincoln terpilih sebagai calon presiden dari Partai Republik
Itu kisah Lincoln yang dipersingkat, kalau kita baca biografi lengkapnya, Anda akan tahu bagaimana perjalananannya menuju keinginan besarnya menjadi presiden.  Yang pasti, Lincoln memang benar-benar melakukan segala usaha untuk mencapai keinginannya itu. Ia mempersiapkan diri dengan baik, sehingga ketika kesempatannya datang, ia sudah layak menyandang dan melaksanakannya.

Jika Anda ingin mencapai karir lebih tinggi, ingin menjadi manager, menjadi group head atau menjadi direktur sekalipun, langkah yang harus diambil adalah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Bahasa yang sedang populer, memantaskan diri. Jika kita sudah siap, begitu kesempatan datang, maka kita akan menjadi orang yang tepat mendapatkannya.

So, be ready when opportunity comes..

follow saya @jumadisubur