Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Selasa, 21 Januari 2014

Agar PHK Membawa Nimat

Panik, marah, bingung, minder, putus asa, dan masih banyak lagi dampak-dampak psikologis yang terjadi akibat PHK.

Para psikolog dan lembaga konseling banyak menerika konsultasi permasalahan yang berkisar tentang berbagai perasaan yang bergejolak dalam diri si ‘korban” PHK. Banyak diantara mereka yang merasa sudah sangat putus asa karena sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun tidak kunjung memperoleh pekerjaan. Begitu banyak surat lamaran dikirim dan berkali-kali sudah mengikuti test atau wawancara tetapi belum juga diterima bekerja. Ada juga yang mengaku sudah memperoleh pekerjaan tetapi masih merasa kurang yakin apakah dirinya akan bisa bertahan di tempat kerja yang baru tersebut.

Kondisi di atas mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita sejak terjadinya krisis ekonomi yang tidak kunjung membaik di negeri ini. Kondisi yang tidak menguntungkan itu telah memaksa terjadinya PHK, baik perorangan maupun massal, sebagai akibat terjadinya merger, perampingan demi efisiensi perusahaan, atau karena perusahaan terpaksa ditutup

Padahal, tidak selamanya pemutusan hubungan kerja harus ditangisi. Tak selamanya pula pemutusan hubungan kerja membawa penderitaan.

Bagi Kurniawan Santosa (47), misalnya, pemutusan hubungan kerja justru menjadi pembuka jalan untuk maju dan sukses. Gara-gara terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), Kurniawan kini memiliki lima mobil antar-jemput anak-anak sekolah. Pendapatan bersih setelah dipotong gaji delapan karyawan, biaya perawatan kendaraan, serta bahan bakar setidaknya Rp 10,5 juta per bulan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan saat dia bekerja sebagai karyawan Bank Harapan Sentosa (BHS) yang kemudian tutup dan dia terkena PHK tahun 1998 lalu.

"Bagi saya, PHK ternyata membawa berkah," kata sarjana hukum lulusan perguruan tinggi swasta terkemuka di Jakarta ini penuh keyakinan.

Namun, sukses yang diraih Kurniawan tidak datang tiba-tiba. Dia harus jatuh bangun merintis usahanya dan meniti dari bawah.

Usahanya diawali ketika BHS tutup dan Kurniawan menjadi salah satu korbannya. Karier yang telah dirintisnya selama sembilan tahun terhenti. Pendapatan yang diterimanya cukup besar mendadak hilang.

"Padahal saat itu saya harus menghidupi keluarga dengan tiga anak yang masih kecil-kecil," kata Kurniawan mengenang masa silamnya yang getir.

Namun, Kurniawan tak mau larut terlalu lama dalam kesedihan. Dia pun harus menerima kenyataan. Dengan cepat dia banting setir menjadi sopir antar-jemput anak-anak sekolah.

Awalnya memang ada penolakan dari anak-anak dan keluarganya, tapi setelah dijelaskan dan terbukti memberikan hasil yang lumayan, akhirnta keluarga malah mendukung usahanya itu. Memang banyak kendala yang harus dihadapi, seperti kurang percayanya orangtua murid kepada mobil antar jemput yang belum mereka kenal karena takut diculik dan sebagainya, ia jalani dengan sabar dan terus membuktikan diri jasa angkutannya bisa dipercaya.

Agar bisa bersaing dengan jasa sejenis, Kurniawan melengkapi mobilnya dengan tape yang memutar lagu-lagu yang sedang populer di masyarakat. Kaset setiap hari ditukar antara mobil yang satu dengan yang lain agar penumpang tidak bosan. Bukan itu saja, setiap mobil juga dilengkapi air mineral kemasan dalam gelas dan kue kering yang bisa diambil penumpang secara cuma-cuma.

"Bukannya untuk memancing peminat, tetapi saya kasihan terkadang anak-anak tersebut tidak sempat sarapan di rumah. Jika ada kue, ya... lumayan, untuk sekadar ganjal perut," kata Kurniawan beralasan. Berkat kreativitas dan keuletannya, jumlah anak-anak pelanggan antar jemputnya bertambah setiap saat, terutama untuk siswa SD dan SMP.

Bagi dia, pemutusan hubungan kerja sungguh merupakan jalan untuk membuka dan mengembangkan usaha sendiri.

Apapun alasan anda berhenti bekerja, mengundurkan diri atas inisiatif sendiri atau pun di PHK, anda harus dapat mengendalikan dan menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut, mengontrol dorongan-dorongan dan perasaan yang bergejolak dalam diri anda dan tetap berusaha keras untuk mendapat pekerjaan baru. Untuk mengembalikan karir anda, anda dapat melakukan beberapa langkah praktis seperti membuat resume baru yang lebih inovatif dari sebelumnya, memperluas networking, secara proaktif mencari berbagai sumber yang dapat menjadi jembatan untuk memperoleh pekerjaan baru, dan tidak lupa melakukan kegiatan spiritual memohon petunjuk dari Yang Maha Esa.

Johanes Papu, Msi pada sebuah artikelnya di e-psikologi.com memberikan saran bagi anda yang kebetulan mengalami PHK dan belum berhasil mendapatkan pekerjaan, saran-saran berikut ini mungkin dapat membantu anda untuk tetap percaya diri dan tidak mudah putus asa dalam mencari pekerjaan:
  1. Kenali diri anda dengan seksama sebelum mempromosikan diri
  2. Antisipasi emosi-emosi dan perasaan yang berkecamuk dalam diri anda.
  3. Fokus pada hal-hal positif mengenai diri anda. 
  4. Persiapkan diri secara matang dalam menghadapi wawancara kerja.
  5. Jaga sikap positif anda.
  6. Olahraga.
  7. Tekankan pada hal-hal positif dalam diri dan perbaiki kelemahan anda.
Selamat menikmati hari baru!
Salam persahabatan.