Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Senin, 21 April 2014

Resign by Design

Bagaimana mensikapi usia pensiun agar tetap dapat beraktifitas? Anak muda bilang have fun aja. Kegembiraan adalah makanan bagi jiwa. Seringkali dikatakan laughter is the best medicine. Mungkin humor dan gembira, tidaklah lantas membuat penyakit dan permsalahan kita lenyap total. Tetapi dengan melihat hidup dari sisi yang ceria, hidup terasa menjadi lebih nikmat.

Lagipula, masalah hidup tidak pernah akan selesai. Ibarat gelombang, setelah surut, akan muncul pasang yang lain. Tetapi hati yang gembira adalah ibarat selancar yang membuat kita dapat menjalani segala pasang surut lautan kehidupan dengan rasa damai. Itulah sebabnya mereka-mereka yang berusia panjang, cenderung memiliki sense of humor yang baik dalam hidupnya.

Kehidupan bukanlah melulu soal usia. Bruce Lee membuktikan bahwa meskipun hidupnya pendek, namun ia dikenang dengan kontribusinya yang luar biasa bagi martial arts, seni bela diri. Itu sebabnya asalah satu rahasia awat muda yang lain adalah menikmati hidup kini dan disini. Kuncinya terletak pada kerelaan kita melepaskan masa lampau serta tidak terlalu banyak khawatir akan masa depan. Seperti kata Bruce Lee, “Yang penting bukanlah seberapa panjang anda hidup. Tetapi bagaimana anda hidup itulah yang penting”. Nikmatilah tarikan nafas Anda sekarang, itulah realita terpenting saat ini.

Salah satu studi yang terkenal dilakukan oleh G.F. Streib dan C.J. Schneider, yang dituangkan dalam buku Retirement in American Society: Impact and Process. Secara khusus, kedua psikolog ini memulai studi dengan fokus meneliti sekelompok responden yang terdiri dari para profesional yang bekerja dengan penuh semangat dan produktif. Studi dilanjutkan dengan terus mengamati perkembangan kelompok responden itu selama masih bekerja, hingga akhirnya mereka pensiun – beberapa orang dari mereka memang ada yang bekerja kembali setelah pensiun.

Secara umum, temuan atas studi tersebut cukup positif. Yakni, kesehatan responden tidak menurun setelah pensiun, begitu pula kepuasan mereka terhadap hidup. Gambaran terhadap diri sendiri (self-image) tidak berubah secara drastis, demikian pula para pensiunan ini tidak merasa tiba-tiba menjadi tua dan tak berguna. Sementara penghasilan yang menurun secara tajam, sebagian besar orang-orang pensiun dalam studi ini ternyata telah siap menghadapi kenyataan, karena itu mereka tidak terlalu khawatir menghadapi masalah keuangan.

Dengan melakukan perencanaan pensiun yang lebih baik dan secara dini, setidaknya kita memiliki harapan yang lebih besar untuk menjalani kehidupan yang lebih berkualitas, meski secara usia mungkin terus menurun produktivitasnya. Untuk itu, idealnya sejak dini kita perlu menetapkan tujuan atau sasaran yang ingin kita capai ketika memasuki masa pensiun. Misalnya: harus punya tabungan berapa; rumah seperti apa; anak sudah menjadi apa (masih kuliah sehingga tetap butuh dana pendidikan, ataukah sudah bekerja).

Semua ini perlu direncanakan, sebab faktanya banyak pensiunan eksekutif – karena merasa dibutuhkan – masih saja bekerja, bahkan lebih keras lagi. Padahal, ini berbahaya kalau kondisi fisik dan mentalnya tidak mendukung. Intinya, janganlah ngoyo mencari duit terus setelah pensiun.

Selain hal-hal yang bersifat fisik dan materi tersebut, perlu juga direncanakan kira-kira kegiatan apa saja yang hendak diterjuni sesudah pensiun. Perlu direncanakan, misalnya, kegiatan sosial atau spiritual seperti apa yang sekiranya cocok dengan kemampuan, kepribadian, serta passion kita.

Lebih penting lagi, manakala usia terus merambat, idealnya kita semakin arif menerima apa pun yang pernah kita jalani dalam hidup ini, tanpa penyesalan yang berlebihan atas segala kesalahan dan kekurangan yang pernah kita perbuat. Kalau tak mampu melakukan ini, bukan mustahil kita akan tenggelam dalam kekecewaan yang panjang, karena waktu kita semakin tak mencukupi lagi untuk memulai kehidupan yang lain. Sebelum terlambat, cobalah menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Design your future. Jangan buru-buru resign. Resign harus by design !