Selasa, 21 Mei 2013

Bekerja adalah Nikmat

Saya punya kenalan yang baru saja diberhentikan dari pekerjaannya karena perusahaannya tutup. Sudah hamper setahun ia di rumah dan menjalani bisnis kecil-kecilan sebagai broker. Ia sering menghubungi saya untuk minta informasi jika ada lowongan pekerjaan. Ia mendambakan pekerjaan tetap agar hidupnya lebih teratur.

Begitulah nikmatnya orang bekerja. Setiap hari kita menghabiskan banyak waktu untuk bekerja. Ada yang bekerja di kantor, di warung, di toko, bengkel, terminal, di jalan sebagai sopir, di pasar, sawah, lapangan atau di manapun kita berada. Hampir sepertiga waktu kita habiskan untuk bekerja, bahkan lebih.

Beruntung orang yang mempunyai pekerjaan. Apapun profesinya itu asalkan baik dan halal merupakan upaya yang benar untuk mencari nafkah. Setidaknya, lebih mempunyai aktivitas dalam mencari penghasilan dibanding dengan (maaf), seorang pengangguran. Namun, ada kalanya orang bekerja dibawah tekanan, dalam arti tidak merasa nyaman ketika melakukan pekerjaan itu.

Seorang karyawan misalnya, rata-rata ia akan menghabiskan waktu 8 jam setiap hari. Waktu yang sangat panjang dan melelahkan bila kita tidak menikmati pekerjaan, tidak nyaman, tidak bersemangat, apalagi sedih, malas, lesu bahkan mengantuk. Orang yang dalam keadaan seperti ini tidak memiliki produktivitas. Bahkan dipaksa sekalipun hanya akan membuang waktu dan tenaga, karena hasilnya tidak akan maksimal.

Bosan, jenuh dan tidak menikmati pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia. Apalagi jika pekerjaan sudah menjadi rutinitas semata. Business as usual. Perasaan tidak nyaman dengan keadaan, rekan sekerja atau atasan, dalam keadaan tertentu kerap menjadi faktor pemicu kejenuhan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya agar hal tersebut tidak berlarut-larut dan menghambat produktivitas kita. []