Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Jumat, 20 September 2013

Respek

Setelah makan malam, seorang ibu dan putrinya bersama-sama mencuci mangkuk dan piring, sedangkan ayah dan putranya menonton TV di ruang tamu. Mendadak, dari arah dapur terdengar suara piring yang pecah, kemudian sunyi senyap. Si putra memandang ke arah ayahnya dan berkata, “Pasti ibu yang memecahkan piring itu.” “Bagaimana kamu tahu?” kata si Ayah. “Karena tak terdengar suara dia memarahi orang lain,” sahut anaknya.

***

Selamat pagi teman-teman, hari baru telah datang..!

Kisah di atas mungkin telah biasa kita dengar. Bisa jadi itu adalah kejadian yang biasa di dalam rumah tangga. Orangtua yang mudah marah ketika mendapati sesuatu yang rusak, terjatuh atau kesalahan-kesalahan kecil yang disebabkan anak-anak. Namun pada saat yang berbeda ketika kita sebagai orangtua yang melakukan kesalahan, kita cenderung bersikap toleran.

Hal serupa sering juga terjadi di tempat kerja. Kita semua sudah terbiasa menggunakan standar yang berbeda melihat orang lain dan memandang diri sendiri, sehingga acapkali kita menuntut orang lain dengan serius, tetapi memperlakukan diri sendiri dengan penuh toleran.

Kita seakan-akan menuntut orang lain, baik itu atasan, rekan kerja atau bawahan kita selalu bersikap baik kepada kita. Mereka harus menjadi orang yang perfect, tidak boleh melakukan kesalahan apapun. Tidak boleh terlambat masuk kantor. Kita tidak suka melihat orang yang berlama-lama istirahat, pulang lebih cepat, kerja seenaknya, atau terlambat dalam memberikan laporan.

Namun jika hal itu terjadi pada diri kita, ketika kita sendiri punya kebutuhan tertentu hingga harus datang terlambat tau pulang lebih cepat, kita bisa berapologi.

Dalam hubungan-hubungan yang efektif di tempat kerja, masing-masing pihak mengungkapkan secara terbuka posisi dan perasaan mereka. Kadangkala terjadi, kita berharap orang lain yang lebih dahulu memahami kita. Ini jelas harapan yang sangat tidak realistis.




Demi membuat hubungan yang baik, kita harus memperlakukan diri kita dan orang lain dengan penuh respek. Ingat, bahwa respek adalah inti penting dari apapun orang lain dan memahami cara mereka melihat sesuatu. Menilai orang lain secara prematur adalah sebuah tindakan yang bertolak belakang dari respek. Anda bisa respek orang lain meskipun perilaku mereka tidak bisa dimengerti. Bagaimana caranya? Hargai orang lain, mulai dari, misalnya asal mereka, prestasi mereka, atau pandangan dan sikap mereka terhadap sesuatu.

Respek adalah dasar dari hubungan yang kuat, ini berarti menghargai diri Anda sendiri sebagaimana menghargai orang lain. Artinya, jika Anda menghargai diri Anda bagus, jauh lebih mudah untuk menghargai dan memperlakukan orang lain dengan bagus juga.

Selamat berkarya!

Follow twitter saya @jumadisubur