Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Jumat, 20 Desember 2013

Mahalnya Senyuman

Siapa bilang senyum itu mudah. Coba buktikan!

Sepanjang hari ini sejak keluar rumah hingga saat ini, lebih banyak mana? Bertemu dengan orang yang tersenyum atau bertemu dengan orang yang tidak?

Senyuman ternyata menjadi barang mahal hari ini. Dunia seakan-akan terlalu kejam untuk mendapatkan senyuman.

Lalu lalang orang hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Di kendaraan umum, semua orang mencari posisi untuk kenyamanannya sendiri di perjalanan, setelah mendapatkan, diam dan sibuk dengan urusannya sendiri. Tidur atau asyik dengan gadgetnya. Tidak sempat lagi menyapa teman, tidak ada waktu berbincang dengan sebelah.

Di rumah, semua sibuk dengan persiapan masing-masing untuk aktivitas hari ini. Sang Ayah sibuk untuk ke kantor, si anak sibuk dengan persiapan sekolah. Ibunya sibuk untuk mengantar dan persiapan ini itu. Pembantu lebih sibuk lagi dengan segala sesuatu pekerjaan rumah di pagi hari. Tidak sempat bertegur sapa, mana mungkin bercanda.

Di kantor, suasana lebih hidup ternyata. Ada tegur sapa, ada senyum. Namun adakah itu benar-benar masuk dalam jiwa. Hanya sekedar dan sekejab saja, setelah itu ya sudah, kembali dengan kesibukan masing-masing. Kadang hanya kepada beberapa orang tertentu kita tersenyum, dan kepada yang lainnya langsung berubah wajah.

Senyum itu mahal.
Semahal biaya hidup yang semakin meninggi. Maka kita dapati, semakin menuju metropolitan, harga senyum semakin mahal. Jika di desa-desa senyum tulus dan renyah masih kita dapati dengan mudah di sawah-sawah, di pasar tradisional, di pabrik, di halaman sekolah inpres atau di tempat pemandian umum bersama. Maka di kota hal seperti itu semakin langka.

Adanya gadget yang semakin canggih, membuat kita sering senyum sendiri di hadapan layar android. Dengan orang yang jauh kita dengar candaan, kita tertawa membaca sebuah cerita lucu sahabat kita di seberang sana. Namun dengan orang-orang sekitar, kita miskin senyuman. Miskin candaan.

Tiba-tiba kita berubah menjadi manekin. Patung-patung yang dipajang, tanpa jiwa. Cantik karena pakaian. Dipandang karena penampilan. Namun minus senyuman. Miskin interaksi.

Benarkah senyum itu mahal?
Kenyataannya ada orang-orang yang ditakdirkan menjadi manusia yang ramah, murah senyum dan tidak mudah marah. Orang-orang seperti ini biasanya memiliki kelebihan. Mereka mudah bergaul, supel dan lebih mudah dalam menjalin hubungan, baik hubungan pertemanan, kerja dan lain-lain.

Meski tidak sedikit juga orang yang ditakdirkan “mahal senyum”. Mungkin orang-orang seperti saya, anda dan salah satu teman anda.

Biar bagaimanapun, nyatanya, senyuman adalah harta termahal yang bisa kita bagikan dengan sangat mudah. Para dokter bilang senyum itu menyehatkan. Para penceramah bilang senyum itu  sedekah.

Dan dalam situasi sulit, mungkin hanya senyuman, satu-satunya bantuan yang bisa kita berikan kepada sahabat. []

Salam persahabatan!