Leader : Connecting People (1)

Tiba-tiba teringat ayah. Sosok inspiratif ini tidak pernah habis kenangannya. Dialah pemimpin terbaik yang pernah aku kenal. Begitu dalam hatinya. Orang yang boleh dibilang tidak mengenyam pendidikan formal kecuali hanya beberapa tahun itu telah menunjukkan kepemimpinannya dalam rumah tangga. Dia bisa mengarahkan anak-anaknya dengan baik sehingga sekarang kelima anaknya sudah menyelesaikan pendidikan sarjana.

Ayah juga pemimpin yang senantiasa berusaha berlaku adil dalam rumah tangga. Dia selalu berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga setiap saat. Dia juga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anaknya dengan baik.

Yang lebih penting lagi, ayah mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu berkasih sayang, saling mencintai dan melindungi. Ayah menanamkan dalam hati mereka keterikatan. Bukan persaingan. Meskipun ada kalanya mereka berlomba dalam hal baik, namun rasa persaudaraan tetap menjadi yang utama.

Salah satu pesan yang diingat Panji adalah ketika beliau mengatakan bahwa jika menjadi seorang pemimpin, maka yang pertama kali dilakukan adalah bagaimana memenangkan hati orang-orang yang dipimpinnya, maka kelak ia akan dituruti oleh bawahannya. Dan memang terbukti. Ayah telah mengambil hati kami, sehingga dengan kharismanya itu kami mengikuti melakukan apa yang beliau kehendaki dari kami.

Ayah telah melaksanakan teori kepemimpinan yang rumit dengan sederhana. Beliau memimpin bukan hanya mengandalkan teori dan ilmu yang runyam, namun beliau telah menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang istimewa, memimpin dengan hati.

Ayah membuktikan bahwa pemimpin yang berhasil adalah yang tidak hanya didukung oleh keterampilan teknis dan kepintaran belaka. Yang tak kalah menentukan adalah emotional intelligence (EQ) yang tinggi. Seperti diungkapkan Daniel Goloman --doktor psikologi Universitas Harvard dan penulis buku Emotional Intelligence, EQ adalah kesanggupan memahami diri sendiri (self-awareness).

Seseorang yang memiliki self-awareness yang baik akan mampu mengendalikan dirinya sendiri (self-control) secara efektif. Self-control di sini bukanlah kemampuan seseorang menekan sedalam-dalamnya perasaan di lubuk hati, melainkan kesanggupan mengelola segenap emosinya secara proaktif. Pada seorang pemimpin, kecerdasan emosi menjadi dominan lantaran ia bekerja berada dalam satu kelompok yang dituntut menunjukkan kerjasama tim yang solid serta hasil kerja yang efektif. Hanya pemimpin yang terampil dan mampu mengendalikan emosinya secara positif alias bisa bekerja dengan hati, yang dapat diandalkan keberhasilannya.


Lebih baru Lebih lama