Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Jumat, 07 Februari 2014

Leader : Connecting People (2)

Ada lima hal yang mempengaruhi kecerdasan emosional seseorang sekaligus menjadi ukuran sukses seorang pemimpin adalah: (1) Mawas diri, yakni kesediaan mengakui kekuatan, kelemahan, emosi, kebutuhan dan dorongan diri sendiri. (2) Pengendalian diri akan yang membebaskan seseorang dari cengkeraman emosi. Pemimpin yang dapat mengendalikan diri mampu mengubah konflik emosional menjadi solusi atau aktivitas yang bermanfaat. (3) Motivasi. (4) Empati, bukan berarti menyetujui emosi karyawan atau memuaskan mereka begitu saja, melainkan memperhatikan aspirasi karyawan bersama faktor-faktor lain dalam membuat keputusan. (5) Keterampilan sosial yang akan menjadikan seorang pemimpin memiliki pergaulan luas, pandai menemukan cara berhubungan dengan berbagai tipe orang, dan yakin bahwa tidak ada hal penting yang dilakukan sendirian.

Kompetensi atau kecakapan seperti inilah yang diharapkan menjadi karakter mendasar seorang pemimpin. Sebab, ia bisa mendorong lahirnya kinerja yang efektif dan superior dalam pekerjaan. Nah, bukankah karakter-karakter seperti itu yang kita butuhkan sebagai seorang pemimpin?

Apabila seseorang telah memenangkan hati bawahannya maka orang yang dipimpinnya akan mau melakukan apapun yang diharapkan atas mereka. Yang lebih penting adalah melakukan transformasi agar nilai-nilai atau karakter kecerdasan emosional itu menular kepada seluruh unit kerja. Merupakan tugas pemimpin untuk melakukan internalisasi karakter tersebut kepada seluruh anak buahnya.

Pentingnya keterikatan hati juga banyak disinggung dalam Kitab suci, bahwa sesungguhnya kekuatan sebuah umat (tim kerja) bertumpu pada kesatuan hati (ta’liful qulub) yang terbangun di antara mereka.

Ketika ikatan hati telah terbentuk maka sebuah organisasi yang kokoh dan kuat akan terwujud. Masing-masing unit akan mengetahui tugas tiap unit kerjanya. Performance kerja bukan hanya hasil usaha dari satu dua orang saja melainkan usaha dari seluruh bagian terkait. Mereka juga merasa bertanggungjawab dengan tugas masing-masing.

Menyatukan hati anak buah. Inilah yang disebut dengan connecting people by touching the heart. Bagaimana menyentuh hati mereka dulu dengan tindakan bijaksana sang pemimpin, kemudian mereka akan memberikan apapun yang diinginkan pemimpinnya.
[]