Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Kamis, 05 Juni 2014

Dari Buku 'From Zero to Zero'

Sejak membaca buku pertamanya 'Visa ke Surga', saya langsung jatuh hati dengan orang ini. Houtman Arifin, sebuah kisah nyata from zero to hero. Perjalanan karir spektakuler, dari seorang office boy menjadi seorang vice president, di sebuah bank internasional, Citibank. Jika kemudian judul buku ini adalah From Zero to Zero adalah bukti kerendahhatian tokoh ini.

Houtman Zaenal Arifin, sama dengan kita yang pernah bekerja, adalah karyawan yang dari awal ingin bekerja di perusahaan, mendapat nafkah untuk menghidupi keluarga dan keinginan mewujudkan cita-cita. Namun yang memberdakan Houtman Arifin dengan orang lain adalah ia punya cita-cita dan ia tahu bagaimana cara mencapainya, dan setelah ia capai, ia tahu kapan harus melepaskannya.

Berawal dari keluarga yang tidak mampu, menjadi yatim dan usia remaja dan menjadi tulang punggung keluarga, Houtman tidak hanya bekerja, namun ia membuat karya besar. Ia tuliskan sejarah kepahlawanan melalui karir cemerlang di dunia perbankan. Ia tidak hanya bekerja, namun berkarya, ia tidak hanya memimpin, namun mengkader pemimpin, ia tidak hanya profesional namun seorang fenomenal.

Bekal pendidikan SMA dan keterbatasan bahasa bukan penghalang suksesnya. Bekerja di lingkungan orang asing tidak menjadi kendala. Memimpin orang-orang yang lebih pintar dan berpendidikan lebih tinggi darinya tidak membuat ciut untuk menjadikan semua divisi yang dipimpinnya menjadi dream team pada masanya. Lingkungan yang beragam tidak membuatnya kehilangan jatidiri dan kepribadian unik yang dimilikinya.

Ketika berada di puncak karir, dengan segala fasilitas dan kemudahan, tidak membuatnya bangga dan jumawa. Justru saat di puncak cita-citanya itulah menimbulkan kesadaran baru tentang peran sosial dan keluarganya. Ia lalu memilih untuk membersamai keluarga. Demi anak-anak, ia tinggalkan semua euforia puncak profesi yang dulu ia damba. Dan keputusan yang diambilnya di usia kematangan seorang manusia, sungguh mempesona. Berhenti bekerja. Kembali ke nol, kembali menjadi bukan siapa-siapa, itu pilihan yang mempesona.

From Zero to Zero, adalah kisah nyata tentang pentingnya hidup dengan visi dan cita-cita, tentang peran-peran mulia dalam pekerjaan apa saja, tentang tanggungjawab pada keluarga, lingkungan dan pekerjaan. Disini juga kita belajar tentang semangat belajar yang merupakan pangkal semua kesuksesan.

3 hal yang saya simpulkan dari buku From Zero to Zero: (1) Apapun pekerjaan kita, milikilah visi dan cita-cita tinggi, apa yang akan kita capai melalui profesi ini. (2) Untuk sukses kita perlu seorang mentor, guru, coach, yang akan menjadi partner dalam mencapai keberhasilan. (3) Haters akan selalu ada di setiap lingkungan kita berada, namun mereka bukan musuh kita, justru merekalah penyeimbang kehidupan kita. Semacam sparing partner untuk memperkuat mental dan kemampuan kita.
From Zero to Zero, saya katakan, ini buku yang wajib, 'fardhu ain' untuk dibaca. :)

Salam Persahabatan!

Jangan biarkan karir dan hidup Anda mengalir begitu saja. Hidup harus bertumbuh. Baca selalu www.tentangkarir.com
Ingin diskusi dengan saya? Follow @jumadisubur