Semangat Pembelajar Bu Khansa

Hari ini, seorang ibu, sebut saja Ibu Khansa, yang sudah berumur tidak muda lagi, jauh dari sebuah desa di belahan timur pulau Jawa sedang di ibukota untuk diwisuda sebagai sarjana. Aku sangat menghormatinya walaupun beliau mungkin belum mengenalku.

Namun yang menurutku luar biasa adalah semangat belajarnya. Meski anak-anaknya sudah bergelar sarjana terlebih dulu, bahkan anak-anaknya boleh dibilang sudah sukses, beliau masih setia dengan pengabdiannya mengajar di sekolah dasar.

Dan semangat belajar di universitas terbuka (yang sangat banyak orang tidak berhasil menyelesaikan pendidikan jarak jauh ini) mengantarkan Bu Khansa mencapai jenjang pendidikan yang masih dianggap tinggi di lingkungan desa. Beliau tidak menyerah dan tidak merasa minder dengan anak dan cucunya.  

Bu Khansa yang saya hormati dan berharap suatu saat akan bertemu dengan beliau untuk meminta wejangan dan nasehatnya, adalah contoh dan teladan seorang ibu dengan semangat pembelajar yang tak pernah pudar.  

Bagaimana membangun semangat belajar tetap ada hingga nanti kita menjadi tua bahkan renta, dan diwariskan hingga anak cucu? Ada beberapa cara untuk menjadikan kita memiliki semangat pembelajar. Cara itu bisa direncanakan, direkayasa, dan bisa juga kebetulan.  

Pertama, tempatkan diri kita dalam situasi yang berbeda atau lebih sulit ketimbang situasi sebelumnya. Dimana situasi ini membuat kita merasa bimbang, ragu-ragu, misterius, aneh, ajaib, mendorongnya untuk bertanya, menimbulkan keingintahuan (curiosity). Keingintahuan itu pada gilirannya menjadi kekuatan untuk bertualang dan menjelajahi hal-hal baru.  

Kedua, tempatkan diri kita dalam situasi challenging, kompetisi, tantangan, dan sebagainya. Ini bukan semata-mata untuk menang, dengan reward dan punishment-nya, tetapi untuk belajar bahkan lewat kegagalan sekalipun. Tujuan penting, tetapi proses lebih penting. Dalam proses itu jiwa fair dibentuk dan dikembangkan.  

Ketiga, latih diri kita menghadapi situasi kritis dan krisis. Bukan hanya hal-hal yang normatif dan ideal, tetapi juga nilai-nilai yang realistik bahkan boleh jadi pragmatik. Misalnya situasi perubahan di perusahaan tentu akan membuka peluang dan tantangan baru. Kesempatan kita untuk menghadapi pilihan-pilihan sulit yang ada.  

Keempat, motivasi diri kita melalui achievement. Kita bisa belajar dari pertandingan olahraga. Mereka mulai dari usaha yang sederhana dan kecil, namun berhasil. Keberhasilan kecil akan memancing dan membentuk kemampuan untuk mencapai keberhasilan yang lebih besar. Kegagalannya langsung mematahkan jiwa!  

Kelima, belajar dari contoh dan teladan yang sejati adalah kehidupan dan jejak-langkah orang lain. Belajar dari lingkungan dan membentuk lingkungan belajar.  

Dan teladan dari Bu Khansa layak kita jadikan contoh bagi kita semua. Semangat yang takpernah henti untuk selalu belajar. Dan bagi Anda yang sudah merasa menjadi orangtua, sudahlah kita berikan contoh dan teladan bagi anak-anak kita?  

Meski Bu Khansa tidak membaca tulisan ini, dengan tulus aku mengucapkan selamat atas wisudanya, semoga membawa manfaat lebih banyak bagi anak cucu dan murid-muridmu. Terima kasih atas keteladanan yang engkau berikan.


Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT









Lebih baru Lebih lama