Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Senin, 29 Juli 2013

Nabi Juga Pernah Galau, Benarkah?

Pernah meerasa galau? Atau paling tidakakhir-akhir ini kita sering mendengar istilah tersebut, baik di media sosial, status BBM atau dalam pergaulan sehari-hari.

Kata galau dapat diartikan juga sebagai bentuk ucapan seseorang yang sedang dilanda perasaan yang tidak karuan atau dalam suasana yang tidak menentu. Mungkin ini akibat dari perbuatan sesuatu yang tidak sesuai dengan perasaan hati saat ini.

Galau sendiri mengkin lebih dekat dengan artinya "aktivitas beramai-ramai" atau didalam kamus dimaksud “sibuk beramai-ramai”. Galau juga dapat diartikan sebagai bentuk perasaan seseorang yang sedang mengalami rasa sedih, bingung, bimbang, gelisah, dsb.

Kata-kata galau pun sering kita jumpai di berbagai media sosial maupun dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang-orang lebih suka bicara dengan kata galau ataupun dengan puisi sebagai bentuk ekpresi dalam menyikapi sebuah problema hidup.

Ada kabar baik. Ternyata bukan hanya kita manusia biasa yang bisa galau. Bahkan Nabi-nabi yang notabene manusia yang disucikan oleh Tuhan dan dilindungi dari dosa-dosa, juga pernah mengalami kegalauan. Mau bukti?

Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu dari Allah, pernah melakukan perenungan panjang di Gua Hira. Kegalauan yang dirasakan Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi, adalah melihat segala keadaan masyarakat di sekitarnya, kondisi masyarakat yang masih menyembah berhala. Ia ingin melakukan sebuah perubahan. Maka Muhammad melakukan uzlah mengadukan kegalauannya meminta petunjuk Tuhannya. Dan kemudian beliau diangkat menjadi Rasul.

Dalam kisah yang lain, kita tahu bagaimana Nabi Ibrahim yang galau karena keyakinannya bahwa dunia ini ada pasti ada penciptanya. Pasti ada yang berkuasa atas semua alam semesta. Maka dia berkeliling dalam pencarian. Kegalauannya semakin bertambah ketika melihat orang-orang di sekitarnya menyembah bermacam-macam 'tuhan'. Bahkan hingga sesuatu yang tidak masuk akal. Ia terus melakukan pencarian dan perenungan. Hingga kemudian beliau diangkat sebagai Nabi.

Demikian juga kita dapatkan kisah-kisah Nabi yang lain, atau sejarah para pahlawan yang pernah hadir mengisi zaman. Sejarah kepahlawanan mereka selalu diawali dengan sebuah kegalauan.

Jadi, jika kita galau, berarti itu pertanda bagus bukan?

Lah, galau kok dibilang pertanda bagus? Memang benar. Soalnya, ketika mengalami galau sebenarnya kita menginginkan sebuah perubahan kan? Galau itu menunjukkan bahwa kita tidak nyaman dengan kondisi saat ini, dan menginginkan sesuatu yang lebih baik dari ini kan?

Seperti kisah Nab-nabi yang menapaki seluruh perjalanan panjang kenabian mereka dengan kegelisahan didalam hati. Sama juga seperti kita. Bedanya, jika kita gelisah soal penghasilan, soal kenaikan jabatan, soal beratnya pengeluaran, atau pun soal sulitnya mencicil hutang-hutang; kalau pada Nabi itu gelisah oleh panggilan hati nuraninya yang menginginkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Mari jadikan kegalauan sebagai awal perubahan untuk menjadi yang lebih baik. Kegalauan sebagai tanda bahwa kita menginginkan kondisi ini berubah. Dan ingatlah bahwa perubahan yang sejati adalah jika hari ini lebih baik dari hari-hari kemarin.

Semangat Ramadhan, semangat perubahan!

@jumadisubur