Spiritualitas dalam Bekerja

Hari ini mau praktik wawancara sebagai rangkaian sebuah training yang saya ikuti. Jadi ingat kisah Rudi dan Sikat Gigi? Masih ingat ceritanya?

Begini kisahnya..

Pagi itu Rudi pergi ke sebuah perusahaan dimana ia dipanggil untuk test wawancara. Saat menunggu antrian untuk dipanggil, Rudi menyempatkan diri ke toilet untuk sekedar membersihkan muka dan mencuci tangan.

Ketika di kamar mandi, Rudi melihat wastafel di kamar itu kotor dan kerak porselin disana-sini. Rudi melohat ke sekeliling dan di samping wastafel itu ia melihat ada sikat gigi bekas yang terlihat tak terpakai. Tanpa menunggu lama, Rudi membersihkan wastafel tersebut dengan sikat gigi bekas yang ia temukan.

Saat itu tanpa ia sadari, ternyata ada orang lain disampingnya yang melihat apa yang ia kerjakan. Orang tersebut adalah salah seorang pejabat bagian HRD yang merupakan salah satu dari tim pewawancara.

Pada saat giliran diwawancara, Rudi ditanya oleh orang yang melihatnya di kamar mandi, “Saudara Rudi, tadi saya lihat Anda membersihkan wastafel dengan sikat gigi bekas, boleh saya tahu, apa tujuan Anda melakukannya, padahal Anda datang kesini bukan untuk wawancara karyawan office boy, atau cleaning service, dan yang pasti, Anda belum tentu kami terima sebagai karyawan di perusahaan ini.”

”Saya melakukannya karena saya ikhlas melakukannya, dan hal itu terlepas dari masalah apakah saya akan diterima atau tidak diperusahaan ini, dan terlepas dilihat orang atau tidak saya melakukannya. Karena saya yakin Allah melihat apa yang saya kerjakan.“

Saya yakin anda tahu, siapa yang diterima diperusahaan itu? Ya, tentu saja Rudi lah orang nya.







Keikhlasan dalam bekerja, sering dikaitkan dengan Spiritualitas.

Spiritualitas berasal dari bahasa Inggris Spirituality. Akar kata dari Spirituality adalah spirit. Spirit bisa berarti jiwa. Bisa juga berarti immateriil (sesuatu yang non-materi). Maka spiritualitas dalam bekerja adalah jiwa, makna, motif dalam sebuah pekerjaan.

Spirit juga bisa berarti murni. Murni dalam bahasa Arab adalah ikhlas. Maka orang yang bekerja spiritual adalah orang yang ikhlas dalam bekerja. Kemurnian seseorang ada pada fitrahnya. Dan fitrah manusia adalah memiliki kerinduan kepada Tuhan, ingin dekat dengan Tuhan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bekerja yang spiritual adalah bekerja yang memiliki kekayaan makna, sarat dengan motif-motif kemulyaan, dan tujuan akhirnya adalah dalam rangka menggapai ridha Allah s.w.t.

Bagaimana cara menumbuhkan spiritualitas dalam bekerja?
Ustadz Wahfiudin pernah menyampaikan, ada 3 cara membangun spiritualitas dalam bekerja:
1. Setting niat yang penuh makna dalambekerja.
2. Perbanyak berdzikir. Apakah dengan lisan atau qalbu.
3. Meyakini bahwa tanggung jawab utama dalam bekerja adalah kepada Allah. S.w.t.

Bekerja keras, cerdas dan tuntas adalah power. Sedangkan motif di balik pekerjaan adalah drivernya. Alangkah bahayanya jika kekuatan yang besar digunakan untuk hal yang tidak baik. Motif yang mulia akan mengendalikan power sehingga pekerjaan kita semakin mendekatkan diri kita kepada Allah.

Jadi mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya dengan shalat , dzikir, puasa atau umrah saja, namun bekerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas/spiritual adalah juga cara yang efektif untuk semakin mendekat dengan Allah.

Bayangkan, berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk bekerja? Sebagian besar kita menghabiskan lebih dari sepertiga waktu kita untuk bekerja. Apalagi jika kita pukul 6 pagi berangkat dari rumah menuju ke tempat kerja, dan pulangnya pukul 6 sore, berarti dia sudah menghabiskan separuh hidup untuk bekerja. Apalagi bagi ibu-ibu yang telah meninggalkan anak-anak, keluarga dan rumah untuk bekerja.

Dan alangkah ruginya jika separuh hidup yang ia jalani dengan susah payah ternyata tidak bernilai di mata Allah. Dan sebaliknya alangkah beruntungnya jika detik demi detik yang ia jalani dalam bekerja ternyata memiliki nilai yang agung di mata Allah. Disinilah pentingnya spiritualitas dalam bekerja.

Selamat bekerja, selamat menjalankan ibadah puasa. []
Lebih baru Lebih lama