Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Rabu, 25 September 2013

Belajar dari Garuda Jaya

Masih hangat dalam benak kita dan pembicaraan di banyak media tentang keberhasilan tim Garuda Jaya menjuarai Turnamen AFF U-19 tahun 2013 yang baru saja berakhir. Indonesia bergembira dengan keberhasilan meraih kemenangan ini. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir Indonesia 'gersang' dengan berbagai gelar di bidang olahraga.

Hal yang agak berbeda dirasakan tim Timur Leste. Setelah kalah dari Indonesia di semi final, Timur Leste berhasil meraih gelar juara ketiga. Meski gagal masuk ke final dan 'hanya' meraih juara ketiga, Timur Leste mungkin tidak terlalu kecewa. Akan sangat berbeda seandainya tim Indonesia yang gagal masuk final.

Penerimaan seseorang dengan kegagalan yang dialaminya akan berbeda-beda tergantung kepada standar masing-masing. Ada seorang yang menganggap kegagalan yang dialaminya sebagai suatu hal yang menyedihkan bahkan sangat menyesakkan.

Namun ada juga orang yang bisa menerima kegagalan yang dialami bahkan dalam suatu titik tertentu menganggapnya sebagai prestasi. Sebagaimana kekalahan yang dialami kesebelasan Timur Leste, karena dapat bertanding di babak empat besar adalah salah satu prestasi gemilang bagi kesebelasan setingkat Timur Leste yang merupakan negara baru di benua ini.

Dan diantara tipe-tipe manusia ada yang menganggap sebuah kegagalan adalah akhir segalanya. Ada yang menganggap bahwa dengan kegagalan tidak ada lagi harapan untuk memperbaharuinya. Bahkan banyak kasus yang terjadi kota-kota besar beberapa orang nekad melakukan bunuh diri sebagai jawaban atas permasalahan yang dihadapinya. Masalah, kekalahan, kegagalan dan problematika kehidupan lainnya dianggap sebagai hal yang memalukan dan tidak termaafkan.

Gagal dan putus asa akan menimbulkan sakit hati dan perih yang menyesakkan. Sedangkan semangat dan kesabaran akan menumbuhkan motivasi perjuangan yang luar biasa. Dan orang-orang yang berhasil bukanlah orang-orang yang tidak pernah terbentur pada dinding kegagalan. Namun mereka adalah orang-orang yang mampu merubah kegagalan dan kekalahan menjadi sumber motivasi keberhasilan dan menjadikannya pijakan untuk melangkah pada tahapan kemenangan selanjutnya. Karena itulah kita dapatkan sejarah kepahlawanan seseorang bukan lahir dari semata-mata keberhasilan mereka dalam perjuangan namun lebih pada bagaimana mereka berhasil mengartikan kegagalan.

Arti dari semua itu adalah semestinya kita sadar bahwa pada tingkat tertentu kita akan menemui kegagalan dan pada tingkatan berikutnya kita berhasil lagi. Kemudian gagal dan kemudian berhasil lagi. Itulah hukum perputaran roda kehidupan.

Dan Allah telah mengajarkan kepada kita tentang makna kegagalan dan perlunya kesabaran lalu bangkit untuk melakukan perbaikan. Demikian juga Allah telah memotivasi kita bahwa sesungguhnya sesudah kesulitan akan ada kemudahan. Maka sesungguhnya sesudah kesulitan akan ada kemudahan. []


Follow twitter saya @JumadiSubur