Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Senin, 02 September 2013

Buta Huruf Abad 21

Kabarnya, Bank Dunia pernah meaporkan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki minat baca paling rendah. Saya beum mengecek laporan tersebut, namun jika ini benar  sungguh disayangkan, mengingat sebagai negara besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang unggul.

Minat baca yang rendah ini bisa jadi salah satu penyebabnya karena masih ada sebagian masyarakat Indonesia yang buta huruf. Dan kabarnya juga masih banyak jumlah penduduk negeri ini yang masih buta huruf. Paling tidak di desa tempat saya tinggal masih ada 1-2 orang yang tidak bisa membaca. Kalau setiap desa ada 1 orang saja, berapa banyak orang yang tidak bisa membaca?

Buta huruf atau tuna aksara, menurut Wikipedia diartikan sebagai ketidakmampuan orang untuk membaca. Sedangkan melek aksara adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, mengerti, menerjemahkan, membuat, mengkomunikasikan dan mengolah isi dari rangkaian teks yang terdapat pada bahan-bahan cetak dan tulisan yang berkaitan dengan berbagai situasi.

Kemampuan baca-tulis dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai tujuannya. Dengannya seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan memberi kemanfaatan bagi masyarakat secara lebih luas.

Ternyata definisi tentang buta huruf sekarang sudah berubah. Gordon More, sang pendiri Intel, mengatakan bahwa buta huruf abad 21 bukanlah orang yang tidak dapat membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu untuk belajar, tidak mau belajar dan tidak mau belajar lagi segala sesuatu yang pernah dipelajarinya.

Psikolog Hary Setyowibowo, M.Psi., dalam sebuah seminar mengatakan bahwa, "Orang yang buta huruf saat ini, bukan hanya orang yang tidak bisa baca, tapi juga yang nggak mampu menguasai informasi."

Mutsaqafil fikr. Berwawasan luas. Itulah karakter seorang pemenang. Manfaatkan semua sumberdaya, cara dan media untuk menambah wawasan, menguasai informasi dan jadilah orang yang melek teknologi.

Siapapun Anda, apakah seorang karyawan, profesional, pebisnis atau apapun profesi Anda, belajar adalah sebuah keniscayaan. Karena jika kita berhenti belajar atau tidak mau belajar atau enggan mempelajari kembali apa yang pernah kita pelajari, berarti kita telah menjadi buta huruf. []


Bagaimana pendapat Anda?

Follow saya di Twitter @jumadisubur