Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Kamis, 24 Oktober 2013

Pilih Jadi Karyawan atau Pengusaha?

Berulang kali menghadiri seminar entrepreneurship saya sering mendapat provokasi untuk segera berhenti jadi karyawan. Anda mungkin pernah mengalami hal serupa. Banyak orang yang 'mengompori' para pekerja agar pindah jalur menjadi pebisnis. Pindah kuadran, istilah kerennya.

Memang jika melihat data, katanya jumlah pengusaha di Indonesia pada 2010 adalah 0,24 persen. Ngga sampai setengah persen! Dan data ini berkembang menjadi 1,56 persen per Januari 2012. Berarti ada lebih dari 3,75 juta orang pengusaha di Indonesia. Kabarnya, angka ini masih jauh apabila dibandingkan dengan Malaysia (5 persen) dan Singapura (7 persen). Data yang menarik.

Di sisi lain, data BPS tahun 2012 menyebutkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2012 mencapai 6,32% atau 7,61 juta orang. Jumlah ini turun 6% dari Februari 2012 yang sebesar 8,12 juta orang. Ternyata jauh lebih tinggi.

Dua perbandingan data ini, akan menimbulkan pertanyaan, mau pilih mana, jadi karyawan apa jadi pengusaha?

Pertanyaan seperti ini bisa jadi akan berbeda tergantung siapa yang bertanya atau kepada siapa pertanyaan ini diajukan. Apakah kepada segolongan anak muda yang sedang mencari pilihan masa depannya, atau mungkin seorang pengusaha menanyakan ini untuk melakukan riset bagaimana persaingan usaha 10-20 tahun ke depan. Dan akan berbeda jika pertanyaan ini diajukan kepada karyawan yang sedang 'galau' apakah ingin tetap bekerja atau pindah haluan menjadi pengusaha.

Banyak yang beranggapan jadi pengusaha lebih enak, karena banyak orang sering melihat rumput tetangga lebih hijau. Namun ternyata jadi pengusaha juga banyak tidak enak. Harus mengurusi administrasi yang rumit, perizinan, dan lain-lain.

Bagi Anda yang sekarang sudah bekerja dan ingin berpindah jalur jadi pengusaha atau menekuni bisnis, namun masih bingung pilih yang mana, beberapa hal berikut patut Anda pertimbangkan:

Keuntungan menjadi pengusaha:
  • Memiliki pendapatan sendiri. Sesuai dengan besaran bisnis yang Anda lakukan. Anda juga bisa mengatur sendiri berapa hasil yang Anda ambil, berapa yang diputar kemabli untuk bisnis.
  • Potensi pendapatan yang tak terbatas. Tergantung usaha kita
  • Bekerja sesuai dengan hobi.
Keuntungan menjadi karyawan:
  • Aman secara finansial. Gaji yang didapat akan terus mengalir setiap bulannya. Dengan begitu, Anda dapat merasa aman secara finansial. Anda bisa mengatur keuangan, berapa untuk pengeluaran bulanan, investasi/tabungan dan berapa alokasi untuk kegiatan sosial
  • Mendapat asuransi kesehatan atau benefit kesehatan lain yang lebih baik
  • Penggunaan waktu yang teratur. Waktu kerja yang teratur bisa Anda manfaatkan untuk bekerja rutin, mengerjakan proyek terkait tugas atau untuk mengembangkan diri
Mau pilih yang mana?

Jika ingin menjadi pengusaha, apa alasan terbesar Anda ingin jadi pengusaha? Apakah hanya ingin mencari uang, merasa tidak bahagia kerja dikantor karena merasa jadi pesuruh atau ingin menikmati hidup? Alasan-alasan ini, menurut Arvan Pradiansyah, seorang Happiness Inspirer, kurang tepat. Karena mengarah ke kenikmatan hidup, bukan kerja keras. Alasan kita menjadi pengusaha seharusnya adalah karena ada potensi kita yang tak termanfaatkan dengan baik saat jadi karyawan. Memiliki potensi besar untuk melayani oranglain.

Namun pilihan menjadi karyawan juga merupakan pilihan yang mulia. Karena dengan bekerja, Anda bisa membantu berkembangnya usaha, melayani orang banyak, membantu orang lain menyelesaikan masalahnya dan tentu saja kesempatan Anda mengembangkan diri lebih besar. Anda bisa baca "Beruntung Aku Menjadi Karyawan" di blog ini juga.

Jangan terburu-buru dan terbawa 'nafsu' untuk menjadi pengusaha kecuali dengan alasan yang kuat dan persiapan yang matang. Ingat bahwa di luar sana masih banyak orang yang mencari pekerjaan. Posisi Anda sekarang bisa jadi sebuah cita-cita tinggi bagi mereka.

Dan bagi para motivator atau provokator, jangan hanya para karyawan yang dikomporin untuk menjadi pebisnis, di luar sana, para pencari kerja, mahasiswa yang hampir lulus, dan orang-orang yang belum mendapat pekerjaan, juga harus banyak dimotivasi untuk berkarya. Apakah bekerja menjadi karyawan atau menjadi pebisnis.

Salam optimis!
Follow saya @JumadiSubur