Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Jumat, 08 November 2013

Karyawan Berkarakter

Ada suatu kisah yang berasal dari negeri India. Dua anak manusia yang bernama Kamala dan Amala, ditemukan di hutan Godamuri India pada tahun 1920. Bahwa dua bayi itu diasuh oleh kawanan serigala. Entah karena suatu sebab apa, bahwa bayi tersebut tersebut hidup bersama dengan kawanan serigala. Kemungkinan karena bayi tersebut di buang oleh orang tuanya. Kemudian diasuh oleh serigala bersama dengan anak serigala yang lain.

Anak bayi berusia 3 tahun ini setelah dipindahkan ke Panti Asuhan ternyata sulit untuk berkomunikasi, layaknya seperti anak manusia yang lain. Ia maunya berperilaku seperti serigala, merangkak, mengendus-endus dan bila mau makan dan minum yang disodorkan adalah mulutnya.

Kata sebagian orang, anak-anak ini telah memiliki karakter srigala.

Benarkah demikian?
Apa itu karakter?

Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain.

Dengan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa membangun karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga `berbentuk’ unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain.

Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya (termasuk dengan yang tidak/belum berkarakter atau `berkarakter’ tercela).

Menurut Anis Matta, dalam buku Membentuk Karakter Cara Islam, proses pembentukan karakter adalah sebagai berikut:
Kepribadian terbentuk setelah melalui proses :
  • Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideologi, dan sebagainya 
  • Nilai membentuk pola pikir seseorang yang secara keseluruhan ke luar dalam bentuk rumusan visinya
  • Visi turun ke wilayah hati dan membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk mentalitas
  • Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap 
  • Sikap yang dominan dalam diri seseorang secara kumulatif mencitrai dirinya adalah kepribadian
Nah, yang membentuk karakter berarti ada 2 faktor: internal dan eksternal. Internal adalah insting biologis, psikologis maupun pemikiran. Sedangkan eksternal meliputi lingkungan keluarga, sosial dan pendidikan.

Dengan demikian, sifat, watak dan karakter manusia selalu dipengaruhi oleh lingkungan, maupun proses pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu lingkungan yang baik cenderung akan membentuk karakter yang baik, lingkungan yang buruk demikian pula akan mencetak watak dan karakter yang buruk.

Apakah karakter bisa dirubah?
Teman saya yang dari psikologi, sekaligus disainer dan konsultan busana, mengatakan bahwa tidak ada yang tidak bisa dirubah di dunia ini..:) Oleh karena itu jangan menyerah. Selalu ada cara untuk mengubah karakter atau kepribadian.

Ada 3 langkah untuk memperbaiki karakter:
  1. Mengubah Cara Berpikir, berarti melakukan perubahan cara berfikir menjadi lebih positif. Memilih informasi-informasi positif yang akan masuk sebagai input dari pemikiran kita
  2. Terapi Mental, dengan memberi warna yang harmonis dalam kehidupan kita. Melakukan penguatan spiritual, melakukan kebaikan dan memperbanyak doa akan menjadi terapi mental bagi kepribadian kita
  3. Terapi Fisik, sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasar-dasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur : gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan, olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup dan stirahat yang cukup sekaligus memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh.
Selamat mencoba!


Salam persahabatan.
@jumadisubur