Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Senin, 11 November 2013

Positivity

Keributan terjadi di pertigaan desa kami. Seorang pedagang kaki lima yang datang dari Jawa Barat, sedang bersitegang dengan para pedagang lain.

Desa kami memang semakin hari semakin ramai saja. Mungkin memang letaknya yang strategis sebagai daerah penyangga antara desa paling ujung dengan kota. Jadi setiap orang yang tinggal di desa-desa wilayah timur harus melewati desa kami, desa Jepang, kalau ingin ke kota.

Karena ramainya lalu lintas kendaraan, utamanya sepeda dan sepeda motor, pedagang kaki lima juga semakin banyak. Apalagi di malam hari. Berbagai macam dagangan dijual para pedagang kaki lima. Khususnya makanan, mulai dari gorengan, gethuk, buah-buahan hingga roti bakar atau makanan ringan cepat saji lainnya.

Karena potensi pasar yang semakin bertumbuh, persaingan pedagang juga semakin ramai. Masing-masing pedagang merasa 'menguasai' wilayahnya dan takut tersaingi.

Suatu hari ada seorang pedagang roti bakar khas Bandung yang baru datang, membuka dagangan dengan gerobak khasnya di sebuah sudut di pertigaan desa. Disitu memang belum ada pedagang roti bakar, namun jajanan lain sudah cukup banyak. Di samping itu, sudah ada 4 pedagang roti bakar lain yang tersebar di seluruh wilayah desa dan tempatnya berjauhan.

Apa yang terjadi?

Pedagang roti bakar yang baru datang itu diusir karena dianggap mengganggu rejeki mereka. Kehadiran pedagang baru itu dianggap akan mengurangi pelanggan mereka.

Namun di sisi lain desa ini, ada juga sederatan ruko-ruko kecil para pedagang konter pulsa dan handphone. Mereka menjual produk yang sama, bahkan toko-toko kecil itu dihias oleh para operator dengan warna-warni menyolok, ada yang kuning, hijau, merah dan ada yang biru.

Suatu hari sebuah toko besar di buka di dekat mereka. Toko besar ini juga menyediakan pulsa grosir, perangkat-perangkat handphone dan aksessorisnya, lebih lengkap dan lebih murah.

Para pedagang konter yang kecil-kecil ini tidak marah seperti pedagang jajan di pertigaan desa. Mereka malah senang dengan kehadiran toko besar tersebut. Malah sejak dibuka toko besar itu, konter mereka juga semakin ramai.

Bagaimana bisa?

Karena konter besar itu setiap hari membuat program yang menarik, ada hiburan, mereka juga membuat lampu-lampu warna warni yang membuat deretan toko-toko itu semakin heboh. Tak pelak lagi, komplek pedagang konter itu semakin ramai. Tidak hanya toko besar itu yang kebanjiran pembeli. Toko-toko kecil di sekitarnya juga ikut mendapatkan limpahan pelanggan. Pedagang barang yang lain juga mendapat limpahan rejeki. Penjual minuman, jajanan, bahkan angkringan nasi kucing juga semakin ramai.

Bagaiman dengan penjual jajanan di pertigaan desa? Tidak ada perkembangan yang signifikan. Penjualan mereka biasa-biasa saja. Pembeli yang berhenti juga tidak bertambah ramai.

Apa yang membedakan sikap pedagang jajan dengan pedagang konter pulsa? Iya, sikap mereka dalam menyikapi persaingan.

Yang satu merasa datangnya pesaing akan mematikan usaha mereka. Yang satu menjadikan hadirnya pesaing sebagai partner dalam bisnis. Sikap mereka yang membedakan. Yang satu menyikapi dengan negatif, yang satu dengan positif.

Ternyata positivity lebih bermanfaat. Sikap positif mendatangkan kebaikan dan manfaat untuk banyak orang. Sikap yang positif membawa kesenangan bagi diri kita, dan orang-orang di sekitar kita.

So, be positive!


Salam persahabatan!
@jumadisubur




Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT