Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Jumat, 28 Februari 2014

Mbak Diyah Menemukan Passion-nya

Namanya Diyah. Mungkin orang tidak percaya jika ia 'hanya' seorang tukang warung, jika melihat wajah dan penampilannya. Bukan bajunya yang bagus, atau perhiasan yang menyolok, tidak. Ia bahkan berpenampilan amat sederhana. Namun rapi, bersih dan enak dipandang.

Ia mengelola warungnya sendiri. Menyewa lapak di halaman masjid Raya di pusat kota tempat tinggalnya. Hanya lapak berukuran kecil. Disana ia membuka warung ala warteg. Bersama seorang wanita setengah baya yang membantu memasak, ia melayani para pekerja kantor, pegawai atau orangtua yang mengantar anak sekolah di pagi hari. Warungnya menyediakan sarapan, kopi dan makanan sederhana lainnya.

Di balik penampilan dan profesi sederhananya itu, ternyata mbak Diyah punya cerita yang cukup menginspirasi. Di balik pekerjaannya sebagai pengelola warung yang harus sibuk memasak, membuat gorengan, menyedu kopi, mengelap meja dan sesekali menemani pelanggannya ngobrol, ternyata ia punya visi yang kuat tentang profesinya itu.

Wuih, tukang warteg punya visi?

Bukan hanya itu. Mbak Diyah adalah alumni sarjana sebuah perguruan tinggi swasta favorit di Salatiga. Ia juga tengah menempuh S2, namun sekarang sedang cuti sementara karena masih sibuk mengurus dagangannya.

Sebelum mengelola warung, wanita muda yang juga menjadi penumpu ekonomi keluarganya ini adalah sales representative sebuah perusahaan kosmetika. Jabatannya juga lumayan. Dan penghasilan yang didapatkan cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Namun kesibukannya sebagai sales reps, waktu yang harus dihabiskan di pekerjaan, mobilitas yang tinggi membuatnya berpikir ulang tentang pekerjaannya. Apalagi kesan 'miring' yang sering dicapkan pada sales reps produk kosmetika, yang tentu saja itu hanya rumor miring saja. Tapi yang paling utama semua pekerjaan itu tidak sesuai dengan passion-nya.

Maka mbak Diyah memilih resign dari pekerjaannya dan menekuni usaha warteg. Setelah warteg ini berjalan lancar, ia berencana mengembangkan usaha gorengan. Beberapa titik keramaian sudah diincar untuk membuka konter gorengan. Dia juga sedang hunting karyawan untuk mengoperasikan konter gorengannya.

Bahkan mbak Diyah punya cita-cita dalam waktu dekat akan memfranchise kan salah satu produk pisang gorengnya. Tentu saja pisang goreng yang khas dan istimewa. Semua itu dilakukan dengan senang. Ia merasa, kuliner inilah dunia nya.

Mbak Diyah berani follow her passion di bidang kuliner rakyat...:)
Bagaimana dengan Anda? Siapkah untuk follow your passion?

Salam persahabatan!

Jangan biarkan karir dan hidup Anda mengalir begitu saja. Hidup harus bertumbuh. Baca selalu www.tentangkarir.com
Ingin diskusi dengan saya? Follow @jumadisubur