Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Minggu, 02 Maret 2014

Ayah Idola Anak

Hampir semua anak memiliki tokoh idola. Jika Anda adalah seorang ayah atau orangtua dari anak yang saat ini berusia remaja, sudahkah Anda tahu, siapa yang menjadi idolanya? Apakah artis K-pop, aktor yang sedang tenar, atau tokoh figur lainnya?

Sebagian anak putri menjadikan ayahnya sebagai sosok laki-laki ideal baginya. Mungkin karena kepintarannya, ketrampilan yang dimiliki, atau karena kedekatan sang ayah dengannya.

Seperti sahabat saya, ia benar-benar menjadi figur ideal bagi putrinya yang beranjak remaja. Kedua anak perempuannya (dia juga memiliki beberapa anak laki-laki) jika ditanya siapa sosok idolanya, selalu dijawab dengan bangga, ayahnya.

Tentu saja ini hal yang cukup jarang. Kita tahu bahwa anak remaja saat ini lebih senang mengidolakan artis atau figur publik lainnya. Artis boy band, penyanyi atau orang terkenal lainnya menjadi pilihan sebagai sosok idola. Jarang yang menjadikan ayah sebagai sosok kebanggaan. Malah sebaliknya, ada sebagian anak yang justru takut dengan ayahnya. Jarang berkomunikasi, hubungan yang jauh, interaksi yang tidak intens, adanya jarak dalam komunikasi dan bahkan ada yang tidak cukup 'kenal' dengan ayahnya.

Apa rahasianya agar bisa menjadi sosok idola bagi anak Anda? Tidak ada rahasia apapun kecuali kedekatan. Memang kadang kita harus terlihat sebagai superman yang serbabisa. Cerdas, berwawasan luas, teman curhat yang baik, pelatih olahraga yang telaten, guru semua mata pelajaran, ustadz yang paham agama, hingga kadang harus berperan sebagai chef yang pandai masak.

Mungkinkah seorang ayah melakukan itu semua? Sangat mungkin. Yang penting adalah keluangan waktu Anda untuk membersamai mereka. Seperti sahabat saya tadi, ia seakan-akan mengerti semua pelajaran sekolah, karena selalu ada waktu menemani anaknya mengerjakan PR, ia juga bisa memberi contoh yang baik dalam pengamalan ibadah dan ilmu agama. Bahkan ia sesekali memasak untuk anak-anaknya. Dan anaknya merasa exciting dengan hal itu.

Bagaimana dengan Anda?