Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Senin, 03 Maret 2014

Harga Sebotol Aqua

Pernah beli air mineral kan? Sebut saja aqua. Ini bukan promosi merek, namun sebutan umum untuk air mineral. Biar mudah...he..
Mari kita perhatikan kisah hidup si aqua. Sama-sama sebotol air mineral, merk yang sama, kemasan dan ukuran yang sama, dari pabrik yang sama, namun 'nasib' mereka bisa jadi berbeda.

Sebotol aqua 600ml misalnya, ketika kita beli di supermarket, harganya hanya Rp. 1.600,- atau bisa lebih murah dari itu. Jika kita membelinya di warung rumahan, harganya bisa jadi 2500 atau 3000 rupiah. Berbeda lagi jika kita membelinya di tempat-tempat umum, terminal atau stasiun maupun bandara. Harganya sudah naik menjadi 4 ribu atau 6 ribu rupiah. Dan harganya bisa menjadi lebih mahal ketika kita beli di tempat hiburan atau tempat wisata. Disana bisa jadi meningkat menjadi 8 ribu rupiah.

Tapi coba kita beli sebotol aqua di sebuah restoran mewah atau hotel berbintang, harganya bisa melambung tinggi menjadi 15 ribu atau 20 ribu rupiah. Bahkan di tempat-tempat khusus, harga sebotol air mineral bisa lebih mahal dari itu.

Pertanyaannya, apakah sebuah botol air mineral bisa memilih, dimanakah ia akan ditempatkan? Apakah ia bisa request, dimana ia ingin dijual? Sehingga ia bisa meningkatkan 'harga diri' nya melalui tempat dimana ia dipajang. Tidak mungkin sebotol aqua yang terpajang di kulkas supermarket, terus karena ingin mengubah nasibnya, malam-malam ketika toko tutup, ia melarikan diri keluar dari supermarket lalu pindah ke hotel berbintang agar harga dirinya meningkat 20 kali lipat?

Sahabat,
Mirip dengan air mineral itu, kita juga tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari rahim siapa, dimana, apakah di kota atau di desa. Kita tidak bisa request untuk di lahirkan di kalangan orang kaya, atau keluarga miskin. Apakah kita lahir di lingkungan positif atau negatif. Tidak bisa.
Kita harus terima apa adanya kondisi kita dilahirkan. Kita harus terima siapa yang menjadi orangtua kita. Kita harus mau berada di lingkungan seperti apa.

Namun berbeda dengan sebotol aqua yang tidak bisa mengubah nasib dirinya. Kita punya pilihan masa depan. Kita punya kesempatan untuk mengubah nasib kita. Kita punya peluang untuk meningkatkan 'harga diri', bahkan 20 kali lipat dari sekarang atau lebih. Kita punya semua kemungkinan untuk meningkatkan kesejahteraan kita. Kita bisa menjadi lebih baik dari sekarang.

Tidak ada yang memaksa kita harus menjadi karyawan terus-menerus. Kita tidak harus mendapatkan gaji yang segitu-segitu saja setiap bulan. Kita punya pilihan apakah akan menjadi karyawan, manajer, pimpinan perusahaan, pebisnis, profesional, investor, pembicara publik, artis, politikus atau apapun peran yang kita pilih.

You have a chance to change. Kita punya kesempatan untuk mengubah diri kita. Dan bahkan Tuhanpun memberi kesempatan kita untuk mengubah nasib. Innallaha laa yughoyyiru ma biqumin hatta yughoyyiru ma bi anfusihim. Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali mereka berusaha mengubah dirinya sendiri. Mari berubah, menuju hidup lebih baik.

Salam persahabatan!
@jumadisubur
Career Coach