Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Kamis, 03 April 2014

Membongkar Penjara Pikiran

Pagi ini, dapat broadcast BBM tentang kisah penemu sikat gigi, William Addis. Diceritakan bagaimana dia mendapat ide membuat sikat gigi. Dia memakai tulang yang dilubanginya kecil-kecil, kemudian mengisinya dengan bulu binatang, serta mengelemnya menjadi satu.

Idenya ini dikembangkan menjadi sikat gigi berbulu nilon dan diproduksi oleh perusahaan Amerika bernama ‘Du Pont’ pada tahun 1938. Dan William pun menjadi jutawan dari gagasan cemerlang ini.

Lebih takjub lagi, ternyata Pak William menemukan ide ini saat dia di dalam sebuah penjara. Luar biasa!

Terkesan dengan kisah William, saya iseng-iseng browsing mencari informasi tentang orang-orang yang berhasil membuat karya dari balik penjara atau dalam kondisi yang susah sekalipun. Ternyata beberapa orang hebat menghasilkan karya-karyawa fenomenal justru ketika mereka sedang mendekam di penjara.
  • Bagaimana Buya Hamka menghasilkan karya besar Tafsir Al Azhar
  • Sayyid Qutb, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin menghasilkan Fii Dzilalil Quran.
  • As Sharkasi menulis bukunya yang terkenal yaitu Al Mabsuth sebanyak limabelas jilid, karena ia berada dalam penjara.
  • Ibnul Qayim menulis bukunya yang berjudul Zaadul MaĆ”ad ketika dalam perjalanannya. 
  • Al Qurthubi menulis buku Syarah Shahih Muslim saat ia berada di atas kapal yang dinaikinya.
  • Sebagian besar fatwa Ibnu Taimiyah ditulisnya saat ia berada dalam sekapan penjara.
  • Para ulama hadits telah menghimpun ribuan hadits, karena mereka hidup fakir lagi terasing.
  • Seorang yang shalih telah menceritakan pengalamannya bahwa saat ia berada dalam penjara berhasil menghafal Al Quran dan membaca 40 jilid buku yang tebal-tebal.
Tubuhnya di penjara, tapi pikirannya tidak terpenjara.
Sementara banyak orang yang tidak di penjara, tetapi seringkali memenjarakan pikirannya sendiri.

Penjara itu bisa berupa kata-kata:
“Tidak mungkin”,
“Tidak bisa”,
“Tidak mau”,
“Tidak berani”, dan tidak tidak lainnya, yang kerap menjadi penghalang kita untuk berkembang.

Relakah kita terpenjara dalam kata-kata yang menghilangkan kemampuan terbaik kita? Yang dengan kata-kata itu justru memenjarakan pikiran kita.

Mari bongkar penjara pikiran kita.

Salam persahabatan!
@jumadisubur.