Jaguar dan Lemparan Batu

Seorang eksekutif muda sedang melaju dengan mobil Jaguar barunya. Karena jalan agak lengang, ia terus memacu kendaraan mewah yang baru ia beli beberapa bulan lalu. Ia ingin merasakan tarikan mobil kebanggaannya itu.

Namun ketika ia tengah melaju, tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan benda melayang di depannya dari arah samping jalan. Terlihat beberapa mobil parkir di pinggir jalan, namun ia tidak melihat ada orang. Tiba-tiba ''Darr" bunyi benturan benda keras ia dengar dari samping mobilnya. Sesuatu benda yang keras menimpa bagian samping mobilnya. Mungkin bagian pintunya yang terkena batu.

"Ciiitt."
Serta merta ia hentikan mobilnya. Diperiksanya bagian pintu mobilnya dan benar. Ada bekas benturan batu atau sejenisnya yang membuat bagian luar mobilnya meninggalkan bekas yang cukup parah.

Sejurus kemudian ia mundurkan mobilnya, kembali ke arah ia lihat bayangan benda melintas tadi. "Pasti ada orang yang melempar mobilku.." pikirnya.

Dan benar. Ia dapati seorang anak berdiri di pinggir jalan. Lalu ia hampiri. Di tariknya anak itu dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.

“Apa yang telah kau lakukan! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.

“Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram.

Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.”  

Tampak kengerian di wajahnya. Lalu ia mengatupkan tangannya memohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”

Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke
suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia
tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia
terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”

Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya wajah gagah di depannya dengan memelas. Matanya berharap pada eksekutif itu. 

“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”

Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.

Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Anda.”

Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat.

Sahabat, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada waktu buat kita untuk menyelaraskannya dengan melihat kehidupan sekitar?

Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas. Bahkan karena kesibukan, kita jadi lupa dengan panggilan Tuhan atau menjadi jadi lena dengan keadaan di sekeliling kita.

Sahabat, apakah kita akan menunggu ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau
dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata dan panggilan dari Tuhan, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

[]
Lebih baru Lebih lama