Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Kamis, 29 Oktober 2015

Generasi Narsis

Narsisisme (dari bahasa Inggris) atau narsisme (dari bahasa Belanda) adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist) - Wikipedia.

Awalnya istilah narsis ini digunakan oleh seorang tokoh Psikologi, Freud. Kabarnya, istilah ini diambil dari mitos Yunani kuno. Dikisahkan ada seorang dewa yang tampan bernama Narcissus yang menjadi idola dewi-dewi. Namun ketika ada seorang Dewi yang menyatakan cinta kepadanya malah ditolak, ia kemudian dikutuk oleh Dewa Apollo, bahwa ia tidak akan menemukan cinta manusianya. Hingga suatu hari Narcissus menemukan sebuah telaga yang bening, ia melihat wajahnya sendiri dalam baangan di telaga itu dengan bangga. Ketika ia menyelupkan tangannya malah ia tenggelam...

Ciri orang narsis, ia senang menjadi pusat perhatian dan senang membanggakan diri dengan berlebihan. Hampir setiap hari ia hanya berbicara tentang kehebatan, kelebihan dan selalu membutuhkan orang lain untuk mengomentari dirinya, bahkan ia ingi orang lain memujanya.

Permasalahannya, orang narsis hanya ingin orang lain memperhatikannya, sebaliknya ia tidak ingin memberikan perhatian kepada orang lain secara tulus. Ketika ia memberikan sesuatu, ia hanya ingin orang lain memperhatikannya. Yang diharapkannya adalah pujian dan pujaan orang lain pada dirinya.

Beberapa psikolog, khususnya yang beraliran Freud mengatakan bahwa kebanyakan mereka yang narsistik tidak mendapatkan penghargaan yang layak sewaktu kecil (Anthony Dio Martin, 2010). Mereka pun lantas berusaha mendapatkannya dari orang-orang di sekelilingnya ketika mereka sudah beranjak dewasa.
Narsis - gambar dari google


Orang narsis senang mengumbar prestasinya ke semua orang dan ingin memastikan bahwa ia orang hebat. Sayangnya, kadang kenyataan menunjukkan bahwa prestasinya tidaklah sebaik yang ia 'klaim'.

Memang tidak semua sikap 'self promotion' atau rasa percaya diri yang kita tunjukkan itu pasti narsistik. Mencintai diri sendiri dalam kadar tertentu juga perlu. Wajar bahkan. Bukankah saat melihat sebuah foto yang kita cari adalah foto kita sendiri terlebih dulu?

Marilah kita mencintai dan bangga dengan diri secara positif, jangan menjadikan insting selfish berubah menjadi obsesi narsistik yang berlebihan. Cara terbaik untuk menghindar dari narsistik yang berlebihan adalah belajar untuk 'mencintai' dan memberikan perhatian TANPA SYARAT kepada orang lain.


Salam persahabatan.
@jumadisubur