Pelatihan SDM untuk UKM dan Korporat | bersama Jumadi Subur, CPHR (Pakar SDM) | Hub. 0815 1321 2579

Melayani konsultasi dan pelatihan | Manajemen SDM untuk UKM | Excellent Service | Management Development Program | Hello Career for Fresh Graduate | Persiapan Pensiun (Ready to Retire) | Hub. 0815 1321 2579 |

Minggu, 14 Januari 2018

Jangan Marah, Bagimu Syurga

Anda mengetahui bagaimana cara memancing kepiting? Ada sebuah cerita masa kecil tentang menangkap cara memancing kepiting. Kami menggunakan sebatang bambu untuk memancing kepiting. Lalu mengikatkan tali ke batang bambu itu, di ujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil.

Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju kepiting yang kami incar, kami mengganggu kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar kepiting itu marah, dan kalau itu berhasil maka kepiting itu akan 'menggigit' tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah.

Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala.

Kami celupkan kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan-nya dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati kepiting rebus yang sangat lezat.

Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena: Marah!

Jika kita menjadi orang yang pemarah, maka kita akan kehilangan energi dengan sia-sia. Sebaliknya jika kita bisa menahan marah, maka kita akan selamat dari kehancuran.

Menurut Sayidina Ali, ada empat hal yang paling berat untuk dilakukan:
  • Memaafkan ketika marah 
  • Berderma ketika pailit 
  • Menjaga diri dari dosa ketika dalam kesendirian 
  • Menyampaikan kebenaran kepada orang yang ditakuti atau diharapkan. 

Pemberani bukan berarti brangasan. Justru mereka yang pemberani adalah yang bisa menahan nafsu saat marah.

Memang, hati boleh panas, telinga boleh merah, kepada boleh keras, tapi pikiran harus tetap cool and fresh. Gigi-gigi boleh gemeretak, tapi jaga diri agar tidak meledak-ledak. Pastikan agar akal pikiran tetap jernih dan ekspresikan kemarahan dalam bentuk yang menyehatkan.Kendalikan diri dan jangan terbawa emosi.

Laa taghdob, walakal jannah, ” begitu hadits Nabi Muhammad. Artinya ”jangan marah bagimu syurga.”.



Insan mulia, diantara tanda keberanian seseorang adalah mereka yang dapat menahan amarahnya. Sebab orang menuruti amarah akan terhina, tercela dan jatuh wibawanya serta hancur kredibilitasnya. Kalaupun harus marah itupun karena hal yang sangat prinsip, misalnya karena pelecehan terhadap Tuhan, bukan karena pribadinya yang disinggung.

Ali bin Abi Thalib pernah menarik pedangnya dan mengurungkan diri untuk membunuh musuhnya saat perang, hanya karena musuhnya itu meludahinya. Ia takut, niatnya membunuh berubah, bukan lagi karena membela agamanya dan membela Allah, tapi telah berubah karena ia marah kepada musuhnya tersebut.


Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda. []